Perkembangan teknologi informasi (TI) yang sangat pesat membawa
dampak yang begitu besar bagi pola hubungan antar individu, antar
komunitas, bahkan antar negara atau bangsa. (Wahid, 2007). Perkembangan
Teknologi Informasi dan Komunikasi ini telah mengubah pemikiran baru di
masyarakat, peran ilmu pengetahuan sangatlah menonjol yang menuntut
sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang
tinggi dalam mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Sehingga
tidak terjadi ketimpangan antara perkembangan ilmu pengetahuan yang
didukung perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan
kemampuan Sumber Daya Manusia yang ada.(Sembel, 2004)
Perkembangan teknologi informasi saat ini, terutama internet, mampu
menghadirkan ruang-ruang interaksi virtual serta menyediakan informasi/
resources dalam
jumlah yang melimpah yang bisa diakses secara cepat. Dengan demikian
berbagai aktivitas keseharian termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan
sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih mudah, murah, efisien, serta
demokratis. Jika pada masa lalu sumber pengetahuan terpusat pada
institusi-institusi pendidikan formal maka saat ini sumber pengetahuan
tersebar di berbagai lokasi yang melintasi batas-batas institusi,
geografis maupun negara.(Wahono, 2008)
Dengan demikian seharusnya guru atau dosen tidak lagi memposisikan
diri sebagai pemegang otoritas pengetahuan namun lebih sebagai mediator
yang berperan untuk memfasilitasi berlangsungnya proses belajar yang
lebih partisipatif. Konsekuensi dari hal ini adalah selayaknya
paradigma yang digunakan bukan lagi menekankan pada aspek
teaching (mengajar) namun lebih menitikberatkan pada proses
learning (belajar). (Syahrul dkk, 2004)
Dalam kondisi demikian sangat mungkin kualitas seorang siswa lebih
baik dari kepandaian seorang guru/dosen. Proses yang lebih menekankan
pada
learning menempatkan guru/dosen dan siswa/mahasiswa
sebagai ‘mitra’ belajar. Guru/dosen menempatkan diri sebagai
fasilitator dari siswa/mahasiswa yang tidak berhak memaksakan
pendapatnya, siswa menempatkan dirinya sebagai aktor pembelajar aktif
yang memahami kebutuhan dirinya dan mengupayakan pencapaian pemahaman
akan pengetahuan secara mandiri. Dan untuk menuju kesana
siswa/mahasiswa bisa mengoptimalkan
web, homepage, search engine
dan fasilitas-fasilitas lain yang tersedia saat ini, seperti dibanyak
perguruan tinggi atau kampus-kampus yang sudah memiliki fasilitas
e-learning, digital library dan lain sebagainya.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat,
kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan)
berbasis TI menjadi tak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal
dengan sebutan
e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (
content) dan sistemnya. Saat ini konsep
e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi
e-learning di lembaga pendidikan (sekolah, training dan universitas) maupun industry (Cisco, IBM, Oracle, dsb). (Warto, 2009).
E-learning
adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu
media yang digunakan adalah jaringan komputer. Dengan dikembangkannya
di jaringan komputer memungkinkan untuk dikembangkan dalam bentuk
berbasis web, sehingga kemudian dikembangkan ke jaringan komputer yang
lebih luas yaitu internet, inilah makanya sistem
e-learning dengan menggunakan internet disebut juga
internet enabled learning. Penyajian
e-learning berbasis web ini bisa menjadi lebih interaktif. Informasi-informasi perkuliahan juga bisa
real-time.
Begitu pula dengan komunikasinya, meskipun tidak secara langsung tatap
muka, tapi forum diskusi perkuliahan bisa dilakukan secara
online dan
real time. Sistem
e-learning ini
tidak memiliki batasan akses, inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa
dilakukan lebih banyak waktu. Kapanpun mahasiswa bisa mengakses sistem
ini. Aktifitas perkuliahan ditawarkan untuk bisa melayani seperti
perkuliahan biasa. Ada penyampaian materi berbentuk teks maupun hasil
penyimpanan suara yang bisa di
download, selain itu juga ada forum diskusi, bisa juga seorang dosen memberikan nilai, tugas dan pengumuman kepada mahasiswa.
(Warto, 2009).
Selanjutnya sebagai suatu sistem yang menggabungkan beberapa konsep dan teori pembelajaran, maka
e-learning memiliki karakteristik, diantaranya adalah :
- Non-linearity, Pemakai (user) bebas untuk
mengakses objek pembelajaran dan terdapat fasilitas untuk memberikan
persyaratan tergantung pada pengetahuan pemakai.
- Self-managing, Dosen dapat mengelola sendiri proses pembelajaran dengan mengikuti struktur yang telah dibuat.
- 3. Feedback-Interactivity, Pembelajaran dapat dilakukan dengan interaktif dan disediakan feedback pada proses pembelajaran.
- 4. Multimedia-Learners style, E-learning menyediakan
fasilitas multimedia. Keuntungan dengan menggunakan multimedia, siswa
dapat memahami lebih jelas dan nyata sesuai dengan latar belakang
siswanya.
- 5. Just in time, E-learning menyediakan kapan
saja jika diperlukan pemakai, untuk menyelesaikan permasalahan atau
hanya ingin meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
- 6. Dynamic Updating, Mempunyai kemampuan memperbaharui isi materi secara online pada perubahan yang terbaru.
- 7. Easy Accessibility/Access Ease, Hanya menggunakan browser (dan mungkin beberapa device yang terpasang).
- 8. Collaborative learning, Dengan tool
pembelajaran memungkinkan bisa saling interaksi, maksudnya bisa
berkomunikasi secara langsung pada waktu yang bersamaan (synchronous) atau berkomunikasi pada waktu yang berbeda (asynchronous). Pemakai bisa berkomunikasi dengan pembuat materi, siswa yang lain. (Team, Univ. Utrech&UNPAD, 2004)